Mentari di pagi ini masih malu-malu untuk memancarkan sinarnya...
Karena rintik hujan belum juga berhenti membasahi bumi...
Hmm... Cuaca dingin ini....
Tak jarang aku pun terbawa suasana (hoooaamm....)serasa ingin kembali menari selimut...tidur lagi.
Kicauan burung tak seindah biasa...
Tampaknya makhluk bersuara merdu itu pun merasakan hal yang sama denganku...
Kedinginan brrrrr....
Ayolah mentari...
Pancarkan sinarmu, agar ku dan yang lain semangat memulai aktivitas...
Akhirnya...
Rintik hujan mulai berhenti menyisakan embun pada dedaunan...
Sejuuuk... tak sengaja daun meneteskan embun pada jemari ku...
Dan Sang Surya perlahan menunjukkan wajahnya....
Yeeee.....
Meski kau sedikit kesiangan.... sinarmu tak mengurangi keindahan cakrawala...
Ini lah mentari hari ini
Yang kan berbeda dengan mentari hari esok
Entah akan lebih indah atau sebaliknya atau bahkan tiada ???
Wallahu'alam....
Satu hal yang pasti terimakasih Ya Robb, ku syukuri hari ini masih dapat ku lihat dunia ini,
Semoga dapat kujalani dengan sebaik-baiknya.
Harapanku di hari ini dan seterusnya adalah semoga Engkau senantiasa memberi perlindungan dan pertolongan pada semua orang terkasihku, umat nabi Muhammad dimanapun berada.
Jika esok tak dapat ku lihat lagi cerahnya mentari, ku titipkan mereka semua hanya padaMu...
Tuhan Semesta Alam.....
Selasa, 04 Desember 2012
Membonceng Ibu (bag 1)
Pada suatu pagi Ze yang sudah belajar mengendarai motor, mengajak ibunya yang akan pergi ke Pasar, untuk bersedia di bonceng. Sang ibu awalnya menolak karena beliau merasa ketakutan, khawatir anaknya belum lancar mengendarai motor kemudian membocengnya yang ada malah jatuh (itu bayangan yang ada dalam benak sang Ibu).
Padahal hari sudah semakin siang, bisa-bisa kalau Ibu tidak segera berangkat ke Pasar, kebutuhan yang akan dibeli kehabisan. Entah mengapa mobil angkutan umum pun lama tak kunjung lewat.
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan sang ibu menyanggupi untuk di bonceng, dengan beberapa syarat yang diajukan,
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan sang ibu menyanggupi untuk di bonceng, dengan beberapa syarat yang diajukan,
"Ya deh ibu dibonceng kamu. Tapi kamu jangan ngebut ya, berjalan di pinggir saja, patuhi rambu-rambu lalu lintas."
Ze hanya menjawab singkat " Baik, bu. Ibu duduk saja dengan tenang dan berdo'a, biar kita selamat sampai tujuan."
"Bagaimana ibu mau tenang, kamu sendiri belum begitu lancar mengendarai motor." tukas Ibu.
Singkat cerita naiklah sang ibu dengan terlebih dahulu membaca basmallah. Dipegangnya perut Ze dengan erat. Motor dinyalakan dan kemudian melaju dengan perlahan. Selama di perjalanan sang ibu terus memperingatkan Ze, "Hati-hati ya Ze, ibu tak mau celaka, eeh itu jalannya berlubang...., pelan-pelan ada kucing lewat....., itu-itu ada polisi tidur rem-rem....., eh awas lampu merah, berhenti. Jangan menyalib mobil truk itu...., awas di sebrang ada motor mau belok,"dan lain-lain. sampai kuping Ze terasa panas.
Tak berapa lama Pasar pun sudah terlihat. Berjarak 2-3 meter dari tempat parkir ada batu kerikil yang terlindas ban motor, sehingga keseimbangan Ze dan motor tidak bisa dikendalikan, kemudian Ze dan Ibu pun jatuh tertimpa motor.
Kira-kira apa yang selanjutnya terjadi??
Yaaa,,, sang ibu mengoceh lagi tiada henti. "Makanya ibu bilang juga apa, kamu harus hati-hati. Kamu ini tidak bisa dibilangan, ibu tadi sudah bilang,,, bla,, bla,, bla,,, "
Ze, balik menjawab. "Coba dari tadi ibu diam, tidak mengoceh terus, saya bisa konsentrasi sama jalan. Ibu tenang saja, berdo'a serahkan sama saya, siapa juga yang mau celaka atau mencelakakan Ibu. Ya sudah kalau sudah seperti ini. yang penting ibu tidak apa-apa kan."
Ibu mengangguk dan langsung menuju ke dalam Pasar tanpa menghiraukan Ze.
..... (to be continue)
Langganan:
Postingan (Atom)