Kamis, 21 Maret 2019

Hamba Malu padaMu

Bismillahirrohmaanirrohiim ...
SEraya memanjatkan syukur yang seharusnya tiada henti diucapkan hamba izin bercerita kembali.
Belum genap 1 bulan dari apa yang hamba tulis di tulisan sebelumnya. Engku, Allah azza wa jalla mengabulkan harapanku. Allahu Akbar ... Allahu Akbar.. Allahu Akbar.
Alhamdulillahiladzi bini'matihi tathimusholihat.
Hamba malu padaMu, ditengah tumpukan dosaku, Kau beri cahaya... cahaya yang luar biasa namun tentu baru sedikit saja yang ku dapatkan karena takkan habis cahayaMu sampai kapanpun.

14 Maret, seminggu yang lalu qadarullah ditempatku biasa tinggal, tidak ada mahram yang menemaniku. Hingga akhirnya mabit di Masjid DT fix menjadi pilihanku. Campur aduk antara tidak percaya dan merasa senang tiada terkira. Namun hamba juga sadar ini belum selesai, sebelum saya benar-benar sampai dan melakukannya sampai akhir. Tak hanya itu, sabtu-ahad ada kajian qur'an yang juga mabit. Bismillah, untuk kali kedua di minggu yang sama hadir di sebuah kajian yang tak ku rencanakan sebelumnya. Sebelumnya ada perasaan ingin hadir tapi seperti biasa ada bbrp pertimbangan ini-itu. Ya Allah ya Allah ya Allah ingin ku menjerit hingga saat ini, karuniaMu begitu nikmat (Menjadi yang dipilihny (Lagi)). Entah karena doa dan ikhtiarku yang mana, atau doa dan ikhtiar siapa yang menjadikanku sebab dapat menghadiri kajian yang jelasizin dan pertolongan Allah. semoga yang diizinkan diridhoi olehMu. Menjadi amal shaleh dan penggugur dosa.
Ya Rabb, jika ini dikarenakan doa dan jasa orang lain mungkin orangtua, saudara,sahabat atau mungkin yang (maaf) membenci/ di benci hamba maka sampaikan ucapan terimakasihku padanya. Mudahkan segala urusannya yang Engkau beri petunjuk dan diridhoi. Karuniakan pula bagi mereka kebahagiaan yang hamba rasakan. Takkan mungkin hamba bisa membalasnya, melainkan Engkau yang jauh lebih mengetahui.

Selepas ini, biasanya diri ini termotivasi untuk kembali menulis, berharap, berdoa karena merasa doanya atau harapannya dikabulkan. Namun belum tentu konsisten, bersebab tidak konsisten pula doa yang terkabul. yaa... hamba mulai mengenal diri hamba ini.

Maka Ya Allah.. Ya Rabb ku, hamba memohon kepadaMu agar hamba dapat tetap menulis, berharap, berdoa setiap waktu bukan karena ingin dikabulkan doa semata atau berhenti karena tidak dikabulkannya doa. Melainkan semuanya dilakukan ikhlas dan jujur mengharap rahmat dan ampunanMu.

Aamiin... Allahumma aamiin.

Ya Allah izinkan dan ridhoi hamba untuk dapat mencintai dan dicintai olehMu dengan tulus, tanpa sombong, jujur tanpa pamrih.
Sebagaimana dalam hadist berikit ini :

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”


Read more https://almanhaj.or.id/3604-hadits-yang-paling-mulia-tentang-sifat-sifat-wali-wali-allah.html

Jumat, 22 Februari 2019

Allah Engkau Dekat (*Menjadi yang dipilihNya (lagi)*)

A'udzubillahi minasyaithonirrojiim...
Bismillahirrohmanirrohiim.. yaa hayyu yaa qoyyum birohmatika astagits.
Astagfirullahaladzim wa atubu ilaih
Seraya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah subhanahuwata'ala.
Semoga Sholawat dan Salam juga tercurahkan kepada Sosok yang ingin kami bersamamu kelak di syurga. Muhammad Shalallahu 'alaihi Wassalam.

Berharap tulisan ini adalah tulus dari hati, hamba berlindung kepadaMu ya Allah dari segala godaan syaitan yang terkutuk.


*Menjadi yang dipilihNya (lagi)*

sebuah kalimat yang akhir-akhir ini hadir, karena sebuah peringatan (amiin) dariNya atas sebuah nikmat yang amat indah dan tak pernah terbayang sebelumnya. Adalah masa dimana saat itu berkumpul dengan sekelompok orang yang saat itu belum saling kenal, hanya dalam event. Namun Qadarullah kita bersama dalam sebuah naungan perusahaan yang saya bilang luar biasa karena tak pernah saya berada di lingkungan yang demikian disusun untuk berkarya dengan kemampuan masing-masing sesuai dengan minatnya, sehingga kerja ga berasa kerja. Deadline ga berasa berat, kerja pagi pulang pagi tidak terasa beban, sebab visi dan tujuan yang jelas. Atmosphere kantor yang penuh tauhid, hangat, penuh kekeluargaan. Dimana tilawah kita lantunkan sebelum dimulai dan mengakhiri aktivitas.

Sharing tentang agama, dan sederetan aktivitas lain.
Semoga prasangka ku demkian benar adanya, bahwa waktu itu adalah salah satu keberkahan kami.
Semoga teman-teman dimanapun sekarang berada Allah senantiasa melindungi dan mencintai kalian semua, kakak-kakakku semuaaa....

Menjadi yang dipilihNya untuk membersamai dalam komunitas tersebut adalah karunia yang luar biasa. Saat ini, Ya Allah hamba tak lagi bersama mereka, tak juga memiliki rutinitas yang sama seperti waktu itu. Entah doa siapa yang Engkau kabulkan, entah amal apa yang ku kerjakan hingga akhirnya Kau berikan takdir terindah itu (salah satunya).
Apa yang kini bisa dan harus aku lakukan untuk juga mendapatkan kondisi yang sejuk seperti itu.
Betul jika dosaku yang banyak akan menghalangiku dari mendapatkan yang demikian.

Ya Allah, mengapa di tempat saat ini tidak Kau anugerahi rasa yang sama saat waktu itu?
Bagaimana harus aku menciptakannya.
Ya Allah... sudah banyak waktu kulalui sekedar tanpa sadar sumengeluh atas takdir, padahal ia adalah bagian dari keputusanku.
Ampuni segala dosa perdosaku ya Allah. Rasanya tak pantas untuk masuk ke surgaMu. amalan tak cukup, dosa menggunung, waktu disia-siakan,senang di zona nyaman, menyalahkan lingkungan.

Ya Allah ampuni hamba ... Ya Allah ampuni hamba...
Izinkan dan terima taubatan nasuha kami ya Allah.

Aamiin Allahumma Aamiin